Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Friday, 26 October 2018

Puisi tentang Harapan






Puisi bagiku adalah napas diantara kehidupan yang selalu tertahan dalam dekapan. Tak bisa dipungkiri, apabila memang pikiran sudah terlalu berat tak bisa tercurahkan. Maka, obat diantaranya ialah menulis. Dalam segi apapun, menulis bisa menjadikan terapi kosakata yang bisa diutarakan. Selain daripada itu, kali ini aku mencoba membagi tips menulis nih, coba baca sampai akhir ya.

1. Memperbanyak bahan bacaan; karena untuk menjadi seorang penulis memiliki senjata paling utama, yakni membaca. Sebab dengan membaca kita akan lebih mudah untuk menyusun kata-kata yang tepat dan lebih enak untuk dibacakan kembali.
2. Mendengarkan alunan musik; mulailah dengan mendengarkan lagu (musik) sesuai dengan tema yang akan digarap. Bagiku musik merupakan hal yang penting selain buku, karena liriknya yang dapat menggugahkan inspirasi.
3. Ciptakan suasana yang nyaman; hal ini memiliki beberapa perbedaan dari setiap penulis, terkadang ada yang memilih suasana yang hening ketika malam hari setelah bermunajat kepada Sang Ilahi, ada pula pada pagi dini hari yang begitu mengilhami atau ada yang menulis ketika suatu kejadian, contohnya pada saat turun hujan, senja dan lain sebagainya.
4. Tulislah apa yang ada dipikiranmu; jika kamu hanya memikirkan kesalahan dalam menulis, niscaya ide cerita yang ingin diungkapkan akan sirna. Maka dari itulah, apabila kamu seorang penulis pemula saranku agar tulis apa saja yang ada dalam hati dan pikiranmu. Dan ingatlah jangan paksakan jika dalam keadaan sedih namun harus dituntut menulis yang bahagia. Karena rasa dan penghayatannya pasti akan berbeda.
5. Proses mengedit; jangan lupa jika sudah menghasilkan suatu karya lebih baik untuk mengedit ulang apa yang kamu tuliskan. Supaya karyamu dapat nikmat oleh pembaca.

Berikut contoh puisi dengan tema harapan.

Bunga diatas Kertas
Karya: Dewi Rima

Titian langkah pada tiap angin
Tiap tuju gempita malam dalam kelam
Mundur atau melaju atas permintaan?
Namun aku disini dalam napas kerinduan

Harap tirani yang membisu
Dekap melerai pilu dalam hatiku
Memeluk mempi larut malam jelmaan diku
Pada masa alam yang lalu terbuai akan pelangi beku

Hingga saatnya tuk berdiri menatap langit
Jalan lurus terbentang terbang melejit
Akan cita cerita tegap mengigit
Itulah pusaka merahasia waktu yang pahit

Berubah jadi tiap doa
Runtutan tengadah tangan dikala berjuang
Sebab melirik detik jam tuk seberapa puan
Akan melihat berbagai hal

Dan akhirnya
Masih ada sepasang tatap mata
Menanti dalam diam
Terlihatlah bunga diatas kertas memadam

Majalengka 23 Oktober 2018

Terimakasih telah membaca tulisanku ini, semoga bermanfaat. Kiranya masih banyak kekurangan dan kesalahan, pembaca dapat meninggalkan di kolom komentar. :-)
Selamat mencoba menulis.

Wednesday, 22 August 2018

Resensi Novel Asa-Asa Kering Karya Ari Keling



Novel Asa-Asa Kering
Karya Ari Keling

Judul : Asa-Asa Kering
Penulis : Ari Keling
Penerbit : Penerbit ANDI
Tahun Penerbit : 2014
Jumlah Halaman : 158

Cerita ini ditarik oleh pengalaman seorang lelaki yang bernama Ardi, menurut pemahamanku pada novel ini telah berhasil membawa suasana haru, terpendam dalam bom waktu yang tetap saja terus berlalu. Seorang Ardi yang mencintai Nadia namun cintanya harus rela bertepuk sebelah tangan karena Nadia yang sangat tergila-gila dengan lelaki berkacamata Rizal. Akan tetapi Rizal yang masih sayang akan pacarnya Reika.
Berawal saling menjaga perasaan satu sama lain, Ardi sebagai sahabat Nadia penuh dengan kesabaran meladeni curhatan Nadia mengenai Rizal. Hatinya terkadang pilu ketika mendengar betapa ia mencintai sahabatnya sendiri. Keempat tokoh utama persahabatan ini mulai mengenal satu sama lain dengan berlibur bersama di beberapa objek wisata.
Cinta salah sudah terlanjur ditanamkan dalam diri Nadia, begitupun tokoh Ardi yang masih saja memendam rasa kasihnya yang tidak pernah terbalaskan. Menurut kalian siapa yang lebih kejam? Antara Ardi atau Nadia. Sebetulnya aku tidak memihak pada keduanya, karena cinta tidak akan pernah disalahkan dan tak bisa diberi alasan. Kau cukup memberi bukan diberi hingga tersadar jika ia bahagia, maka hatimupun akan bahagia. Dan itulah yang kukagumi dari sosok Ardi.
Perjuangkan atau ikhlaskan? Ardi memilih tetap mengagumi dari jarak jauh, hempasan tembakau yang sudah candu membuatnya semakin tegar menghadapi perjalanan percintaannya. Ardi pun merasa saatnya untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya dikala hanya mereka berdua. Akan tetapi, Nadia menolak karena cintanya yang terlanjur pada Rizal.
Hingga pada klimaks, Nadia merelakan menjadi kekasih kedua Rizal. Petaka inipun terjadi, mengingat Reika yang tidak terima dengan keadaan ia memilih pergi kerumah orangtuanya di Surabaya. Persahabatan yang mulai goyah akan cinta.
Ada puisi Rindu Berlalu dari penulis.

Kita satu atap,
tapi tidak saling menatap.
Kita menghela udara yang sama,
namun tak saling menyapa.
Kita tahu kita sama-sama rindu,
entah menhapa kita memilih berlalu.

Cinta bersemi diantara Nadia dan Ardi, mereka saling membangun satu sama lain dengan stasus di facebook berpacaran. Bagaikan petir di siang bolong tanpa kabut, hati Ardi pecah berkeping. Aku menjadi stalker Nadia, dan ada satu statunya yakni “Aku rindu sahabatku.” Dan pada akhirnya rindu itu tak terbalaskan karena yang datang hanyalah Rizal yang membawa surat undangan pernikahan mereka. Ardi pilu, tanpa arah menyesali cintanya yang tak pernah terbalaskan.
Puisi Asa-Asa Kering

Aku tengah tengadah,
sembari menikmati hatiku yang patah.
Harapan ini semakin terbelah,
mungkin detik ini waktu yang tepat untuk menyerah.

Kututup hati sampai waktu yang tidak ditentukan.
Tak perlu menunggu kabar kalian,
terpenuhi sudah undangan pernikahan.

Ahh.. tak penting
Kalian sudah bersanding
Asa-asaku mulai mengering.

Bekasi, 20 November 2011.
Kertas putih pada catatan terakhir banyak dialui oleh Ardi yang terserang penyakit bronkritis kronis akibat kecanduan oleh rokok. Hari demi hari semakin pucat dan merengkuh semua organ tubuhnya, dan akhirnya ia sembuh dengan jalan kematian. 

The and.

Tuesday, 21 August 2018

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA BIDANG MORFOLOGI DALAM SPANDUK DI JALANAN SEKITAR MAJALENGKA



ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA BIDANG MORFOLOGI DALAM SPANDUK DI JALANAN SEKITAR MAJALENGKA
Dewi
NPM: 17.03.1.003
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Majalengka

Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan segala bentuk kesalahan berbahasa dalam spanduk di jalanan sekitar Majalengka yang masih belum memperhatikan bentuk bahasa yang baku sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tujuan yang kedua yaitu mendeskripsikan pemilihan kata yang tepat (diksi) untuk spanduk pada jalan sekitar Majalengka. Teknik analisis yang digunakan ialah penelitian deskriptif dengan subjek pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah spanduk yang berada di jalanan sekitar Majalengka. Tahapan pengumpulan data pada kali ini penulis mengambil potret dan teknik simak, maksudnya penulis awalnya memfoto spanduk yang sekiranya mempunyai kesalahan dan tahap selanjutnya teknik simak membaca baik-baik kemudian dicatat kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi dan dicatat pula pembetulannya. Hasil analisis dan pembahasan menenai analisis kesalahan berbahasa bidang morfologi pada spanduk  terdapat bentuk kesalahan bidang morfologi berupa: (1) kesalahan prefiks (meN-, ter-, ber-, di-), (2) kesalahan kata tidak baku, dan (3) kesalahan tanda hubung (-).

Kata Kunci : Kesalahan berbahasa dalam bidang Morfologi, spanduk, penelitian deskriptif kualitatif, mengambil potret dan teknik simak.

A.    PENDAHULUAN
Spanduk menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kain rentang yang berisi slogan, propoganda atau berita yang diketahui umum. Analisis atas pesan spanduk dapat dilakukan dengan menganalisis pesan, baik pesan-pesan tertulis maupun pesan yang disampaikan melalui analisis wacana.
Spanduk atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “banner” berasal dari bahasa latin “banderia” atau “ bandum”. Banner sendiri menurut Wikipedia adalah bendera atau potongan kain yang berisi simbol, logo, slogan atau pesan-pesan lainnya. Sejarah banner cukup panjang, dimulai sebagai hasil seni kuno, sudah digunakan pada jaman Nabi Musa yang digambarkan sebagai panji-panji (Keluaran, 2017:15). Dalam perkembangannya, banner/spanduk banyak digunakan dalam peperangan, bahkan spanduk yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan sebutan ”sashimoto” sudah digunakan sejak abad 15 –16, sedang di Amerika digunakan dalam Perang Sipil oleh para serdadu/angkatan perang. Spanduk juga digunakan sebagai bagian dalam prosesi keagamaan dan ditempatkan di tempat terhormat, sebagai media promosi, spanduk atau banner dikategorikan sebagai media below the line, atau media lini bawah, yakni aktivitas periklanan yang tidak melibatkan pemasangan iklan di media massa. Karenanya, spanduk merupakan media yang sifatnya memudahkan khalayak langsung melihat satu pesan atau satu produk saja. (Hs, Isbandiyah, 2006:4)
Spanduk juga digunakan berbagai partai politik untuk menggalang dukungan, mulai dari Bung Karno sebagai presiden, termasuk pada masa kampanya pemilu, mulai dari tahun 1955 sampai sekarang spanduk sebagai media komunikasi benar-benar menunjukkan dominasinya. Ketika penulis berkeliling disepanjang jalan Raya Parapatan hingga Majalengka mendapatkan berbagai macam jenis spanduk dari iklan makanan, minuman, tempat, pemilu, toko hingga barang.
Hal tersebut membuat penulis tertarik akan penelitian kebahasaan bidang Morfologi ini, ternyata hasil lapangan masih saja banyak kesalahan dalam kata dalam spanduk tersebut. Untuk itu, dengan penelitian ini berbahap pembuat spanduk akan menyadari akan pentingnya berbahasa yang baik dan benar. Dan penulis merumuskan masalah: 1) Bagaimana kesalahan dari segi kata dan bentuk kata dalam spanduk? 2) Bagaimana pembetulan terhadap kesalahan berbahasa dari segi kata dan bentuk kata pada spanduk?
Adapun tujuan ditulisnya penelitian ini ialah mendeskripsikan kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi supaya masyarakat tidak akan keliru kembali atas apa yang mereka berikan informasi melalui spanduk.
Penulis berharap penelitian ini memberikan manfaat, pertama untuk Memberi masukan kepada para pemasang iklan spanduk agar lebih memerhatikan bahasa yang baik dan benar. Kedua, Menjadi acuan terhadap setiap individu agar teliti dalam setiap pemilihan kata yang akan dituangkan dalam sebuah tulisan yang akan dipublikasikan.

B.     METODE PENELITIAN
Jenis dan strategi penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yaitu jenis data yang dianalisis itu bukan berupa angka-angka (data kuantitatif), tetapi berupa kata-kata. Dalam penelitian kualitatif kegiatan penyediaan data merupakan kegiatan yang berlangsung secara simultan dengan kegiatan analisis data. Analisis kualitatif fokusnya pada penunjukkan makna, deskrip, penjernihan, dan penempatan data pada konteksnya masing-masing dan sering kali melukiskannya dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka. (Mahsun, 2005:233).
Objek dalam penelitian adalah suatu yang menjadi perhatian lebih, penulis meneliti spanduk untuk menganalisis kesalahan berbahasa dalam bidang Morfologi pada bulan Juni 2017 sekitar Jalanan Majalengka dan sekitarnya. Data dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik potret dan teknik simak.
a.       Teknik potret
Merupakan teknik yang dilakukan untuk memperoleh data dengan memotret suatu objek data untuk memperoleh spanduk yang ingin dianalisis kesalahannya. 
b.      Teknik simak 
Menurut Mahsun menjelaskan teknik simak adalah suatu metode yang dilakukan untuk memperoleh data dengan menyimak penggunaan bahasa. Teknik ini digunakan untuk menyimak penggunaan bahasa tulis yang mengandung kesalahan berbahasa bidang Morfologi pada spanduk.

C.    HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      Bentuk Kesalan Berbahasa Bidang Morfologi pada Spanduk
Jenis kesalahan dalam penelitian ini berupa kesalahan prefiks (meN-, ter-, ber-, di-), kesalahan kata tidak baku, dan kesalahan tanda hubung (-). Pada kesalahan morfologi didalamnya terdapat penghilangan afiks, bunyi yang seharusnya luluh tetapi tidak diluluhkan.
2.      Wujud Kesalahan Berbahasa Bidang Morfologi pada Spanduk
Berikut data kesalahan berbahasa bidang Morfologi yang diambil dari spanduk iklan di jalan dan diklasifikasikan berdasarkan kesalahan berbahasa dalam bidang Morfologi.
a.       Kesalahan Prefiks (meN-, ter-, ber-, di-)
Berikut contoh spanduk yang mengalami kesalahan Morfologi.

      Foto diatas diambil dari spanduk iklan di depan TNI-POLRI 321, Sukahaji. Terdapat kesalahan penulisan MENSUKSESKAN seharusnya menjadi MENYUKSESKAN.
Karena dalam Morfologi kata MeN- bergabung dengan kata konsonan akan melebur menjadi MeNY-.
b.      Kesalahan Kata Tidak Baku
1)      Berikut foto spanduk yang mengalami kesalahan Morfologi.

Foto diatas diambil dari iklan pada Jalan belakang Universitas Majalengka. Terdapat kesalahan penulisan AIS yang seharusnya ES. Karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menggunakan kata Es memiliki arti air beku.
2)      Berikut foto spanduk yang mengalami kesalahan Morfologi.

Foto diatas diambil iklan dari Jalan Cigasong, terdapat kata tidak baku APOTIK seharusnya kata APOTEK artinya toko tempat meramu dan menjual obat berdasarkan resep dokter serta memperdagangkan barang medis.
3)      Berikut foto spanduk yang mengalami kesalahan Morfologi.

Foto diatas diambil iklan dari Jalan Paningkiran, terdapat kata VERMAK seharsnya kata PERMAK yang arti adalah mengubah dari bentuk atau keadaan asli menjadi bentuk baru.
4)      Berikut foto spanduk yang mengalami kesalahan Morfologi.

Foto diatas merupakan spanduk dari Gedung DPRD Kabupaten Majalengka. Memiliki kesalahan pada kata RAMADHAN yang harusnya RAMADAN. Sesuai dengan KBBI V Ramadhan artinya bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa.

5)      Berikut foto spanduk yang mengalami kesalahan Morfologi.

Foto diatas diambil dari Jalan Parapatan, dengan kesalahan kata AKSESORIS menjadi AKSESORI.  Karena dalam KBBI Aksesori memiliki arti barang tambahan yang berfungsi sebagai pelengkap dan pemanis barang.
c.       Kesalahan pada Tanda Hubung
Berikut foto spanduk yang mengalami kesalahan Morfologi.

Foto tersebut diambil dari Perempatan Cigasong, dengan kesalahan tidak terdapat tanda hubung (-) pada kata BERBEDA BEDA BERSAMA SAMA seharusnya BERBEDA-BEDA BERSAMA-SAMA.

D.    SIMPULAN DAN SARAN
1.      Simpulan
Dalam sebuah spanduk yang menjadi informasi acuan untuk masyarakat umum. Karena iklan inilah suatu barang, almamater, minuman, makanan hingga calon gubernur jadi sarana media cetak yang efektif. Namun penggunaan Morfologi acap kali terabaikan oleh pembuat spanduk.
2.      Saran
Untuk itulah, sebuah iklan hendaklah menjadi panutan bagi para pembaca agar memperbaiki bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1.      HP, Achmad. (2013). Linguistik Umum. Jakarta: Penerbit Erlangga.
2.      Keraf, Gorys. (1979). Komposisi. Jakarta: Penerbit Nusa Indah.
3.      Chaer, Abdul. (2015). Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Penerbit PT RINEKA CIPTA.
4.      Hariyani, Elyta Eka. (2013). Analisis Kesalahan Berbahasa Bidang Morfologi pada Surat Kabar Harian Jateng Pos Edisi Januari 2013. Jurnal Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Perhatian: Jika ingin copy paste, pastikan sumber link blogger ini dicantumkan ya, beserta Daftar Pustakanya. Terimakasih.