Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Tuesday, 5 July 2022

Contoh Latar Belakang Skripsi



SKRIPSI

ANALISIS TOKOH PEREMPUAN DAN ALAM DALAM NOVEL AROMA KARSA KARYA DEE LESTARI MELALUI PENDEKATAN EKOFEMINISME SEBAGAI BAHAN AJAR DI SMA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Kehadiran Kritik sastra dapat menyelesaikan permasalahan yang umum. Seperti permasalan dan isu-isu sosial yang diselesaikan melalui jalan kritik bukanlah hal yang baru, melainkan kritik sastra ini sudah ada sejak sastra itu lahir. Ekofeminisme diperkenalkan oleh Francoide d’Eaubonne dalam La Feminisme ou la Mort Hal ini dikarenakan masih sedikitnya peneliti yang menggunakan pelestarian alam lingkungan sebagai kajian kritik sastra. Untuk itu, upaya pelestarian sudah semestinya diterapkan sebagai sarana pemertahanan ekosistem manusia. Sesuai dengan perkembangan sastra yang terus berkembang mengikuti perkembangan manusianya. Artinya, dengan sastra manusia mampu mempelajari pengalaman sebagai pelajaran untuk kehidupan yang lebih baik.

Menurut jurnal penelitian mengatakan Fiter dan Noni (2021) Kritik sastra terhadap alam dan perempuan melalui karya sastra sastra merupakan sesuatu yang baru dan jarang sekali di lakukan di Indonesia. Upaya kritik dengan karya sastra yang dilakukan oleh pihak pelestarian alam dan kesejahteraan perempuan hadir sebagai respon manusia terhadap penindasan alam dan perempuan. Sehingga ekofeminisme dipilih menjadi kritik sastra sebagai ideologi dan asas yang mengkaji sebagai kritik alam dan perempuan.

Pengertian lain Susanto (2016: 31) mengatakan kritik sastra diartikan sebagai bentuk pengadilan terhadap karya sastra ataupun fenomena kesastraan. Perkembangan selanjutnya, kritik sastra memasuki satu bentuk penilaian terhadap karya sastra dan fenomena kesastraan. Penilaian itu meliputi penilaian baik ataupun penilaian buruknya karya sastra berdasarkan estetika atau standar tertentu. Penilaian yang berdasarkan pada standar tertentu itu sering menimbulkan persoalan antara baik dan buruknya karya. Maka, dari pernyataan keduanya dapat dihubungkan bahwasanya kritik sastra sebagi penilaian berdasarkan kritik sastra terhadap alam dapat dijadikan kajian karya sastra.

Selaras dengan yang diungkapkan oleh Septiaji (2019: 59) bahwasanya Kritik sastra mengenai alam merupakan persoalan ekologi namun dalam konteks kesusastraan terdapat dua hal yang menjadi latar belakang yaitu fenomena cerita dan tokoh. Fenomena cerita nyata yang digambarkan oleh pengarang karya sastra sedangkan keterlibatan tokoh sebagai pengungkap fenomena yang telah terjadi. Meskipun demikian, kehadiran tokoh menjadi sesuatu hal yang dapat menghidupkan sebuah cerita sebab karya sastra selalu berhubungan dengan relasi manusia dengan aspek-aspek yang dilingkungannya.

Tokoh perempuan dan alam (ekologi) merupakan aspek terpenting yang terdekat dalam kehidupan. Peran perempuan sebagai penentu awal kehidupan menjadi hal yang patut untuk diteliti. Tidak hanya itu, persoalan krisis alam kini menjadi pembahasan dalam persoalan ekofeminisme selain perempuan. Alam dapat digambarkan sebagai napas dunia, menjadi penentu perkembangan era manusia. Itulah mengapa kajian kritik sastra ekofeminisme tergabung dan terlahir dari induk feminisme.

Aktivitas kesastraan kaum perempuan dianggap sebagai wujud yang nyata dari kesadaran sosial. Menurut pandangan feminisme, kesastraan menjadi alat perjuangan ataupun gerakan perubahan untuk melawan berbagai bentuk penyanderaan ataupun objektivitasi kaum perempuan. Baginya, baik laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan secara sosial akibat dari kontrol sosial. Keragaman gerakan feminisme akhirnya membawa pengertian dan kedudukan kesastraan yang juga beragam dan kompleks. Sebagai contoh yang diucapkan Susanto (2016: 2) Feminisme memandang bahwa kesastraan perempuan lebih dipandang sebagai kelas kedua dalam masyarakat kapitalis patrilineal. Feminis sosialis akhirnya memanfaatkan sastra sebagai wujud perubahan sosial yang mampu menghadirkan satu kesadaran sosial dan pengalaman sosial dari perempuan yang tertekan. Melalui kesastraan, perempuan diharapkan sebagai awal ataupun penyebab dari penindasan perempuan terutama sistem ekonomi kapitalis.

Perempuan dalam sastra inilah isu utama yang berhubungan dengan feminisme tentang posisi, kedudukan, pengalaman hidup dan bentuk-bentuk tulisan perempuan dalam sastra. Hal ini pun dinyatakan dalam penelitian Septiaji dan Nuraeni (2020) bahwa peranan perempuan sangat penting karena sastra kerap kali mengisahkan tentang batasan gender dan pandangan mengenai perempuan. Oleh karena itu, pengaruh atau peranan perempuan yang sangat spesifik dan jelas terdapat pada novel. Novel memiliki alur yang sangat lengkap serta gambaran mengenai tokoh yang disajikannya pun sangat padat dan tentu saja dapat dijadikan sebagai bahan kajian atau kritik sastra.

Novel merupakan bagian dari karya sastra melalui bentuk lainnya sepeti prosa, puisi, dan drama. Namun, perbedaannya terletak pada penyajiannya, novel terbentuk dalam karya fiksi yang menyampaikan permasalahan kehidupan yang kompleks. Seorang pengarang mampu mengarang sebuah karya sastra fiksi termasuk novel dengan baik dan biasanya tema yang diangkat diambil dari kehidupan yang pernah pengarang alami sendiri, pengalaman orang lain dari kehidupan yang pernah pengarang alami sendiri, pengalaman orang lain yang mengarang lihat dan dengar, ataupun hasil imajinasi pengarang.

Karya sastra berupa novel yang diterbitkan penulis Indonesia Dee Lestari, bukunya yang ke 12 ini berjudul Aroma Karsa merupakan hasil riset pedulinya terhadap lingkungan. Dalam dokumenter pribadinya menyatakan bahwa menulis Aroma Karsa bukan hanya khayalan, melaikan implikasi dari potret kehidupan nyata. Melalui risetnya sekaligus menggarap lingkungan melalui pengelolaan sampah inilah menjadi inspirasi dari novel tersebut.

Aroma Karya menggambarkan novel yang membahas pencarian tanaman Puspa Karsa dengan dibalut berwawasan ekologis. Selain itu, Kekuatan dalam alur sebuah cerita tidak terlepas dari tokoh, sebagai penentu jalannya sebuah cerita. Peran daripada penokohan sangatlah menentukan mata angin bagi alur cerita didalamnya. Tokoh sentral Janirah, Raras Prayagung dan Tayana Suma merupakan sosok perempuan dengan karisma yang tinggi. Tokoh merekalah yang menjadi penguat daripada tokoh yang lainnya, sebagaimana tokoh karakter pewayangan Dewi Srikandi yang biasa disebut sebagai tokoh perempuan yang gigih dan pemberani. Begitupun sosok Kartini dengan kutipan terkenalnya “Habis Gelap terbitlah Terang.”

 Dalam kurikulum 2013 pendidikan Sekolah Menengah Atas, konsep pembelajaran sastra pada mata pelajaran Bahasa Indonesia selalu didasarkan pada standar karena segala tindakan yang dilakukan harus berlandaskan alasan yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satunya dengan memahami sastra sebagai bahan ajar. Guru yang bertanggung jawab terhadap ketercapaian materi ajar sebagai indikator penentunya. Oleh karena itu, guru merupakan perpaduan penafsiran dan prediksi. Sesuai yang dinyatakan menurut Rozak (2016: 2) Penafsiran merupakan kegiatan yang  menentukan rangkaian kegiatan awalnya. Guru selalu berhubungan dengan penyusunan kegiatan secara sistematik. Proses pembelajaran selalu bermula dari apa yang ditentukan sejak awal. Oleh karena itu, guru disyaratkan menguasai isi dan cara mengajarkannya. Bentuk pembelajaran apapun selalu berfokus pada kondisi seperti ini, termasuk juga pembelajaran sastra.

Pembelajaran sastra menyesuaikan dengan perkembangan karya sastra yang berkembang sesuai zamannya, misalnya seperti karya-karya penulis populer Dewi Lestari, Tere Liye, Boy Candra, Fiersa Besari, Rintik Sedu dan lainnya yang mempunyai genre romantis melalui penggunaan bahasa dan keadaan sesuai dengan dipasaran. Walaupun kritik sastra masih dengan teori yang sama. Pembelajaran sastra ini setiap tahunnya berkembang sesuai dengan kondisi di sekolah. Karena seiring berjalannya waktu banyak karya sastra yang dipublikasikan semakin beragam. Ditandai dengan media wattpad melalui metode publikasi terkini yakni secara online sehingga penulis dapat mengakses tulisan dimanapun dan kapanpun.

Bentuk pembelajaran sastra seharusnya diarahkan pada kegiatan apresiasi. Apresiasi memungkinkan pembicaraan pada arah penikmatan karya sastra dengan benar, teratur, dan mempertimbangkan berbagai unsur. Karya sastra memang untuk dinikmati. Penikmatan ini memerlukan alat yang tepat. Alat inilah yang seharusnya disiapkan oleh guru para muridnya. Para murid belajar sastra memerlukan bimbingan yang tepat.

Dalam kaitannya materi pembelajaran sastra khususnya novel terdapat pada nilai-nilai dalam cerpen atau novel kelas XII Sekolah Menengah Atas. Untuk itulah, pembelajaran sastra dapat sangat dekat bagi pendidik maupun peserta didik.

Disamping itu, peneliti mendapatkan beberapa penelitan lain yang sesuai berdasarkan judul penelitian tersebut diantaranya sebagai berikut:

1)      Skripsi berjudul “Peran Perempuan Terhadap Alam dan Lingkungan dalam Novel Aroma Karsa Karya Dee Lestari (Kajian Ekofeminisme Francoide D’eaubonne)”. Oleh Muftia JB, Universitas Negeri Makassar, Fakultas Bahasa dan Sastra Jurusan Bahasa dan Sastra Indoneia. Pada tahun 2019.

Memaparkan mengenai peran dan posisi perempuan yang terdapat dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari. Menurutnya manusia tidak dapat lepas dari alam dan lingkungan sekitarnya. Dari alamlah manusia mendapatkan sumber makanan, bahan sandang, sehingga membangung tempat tinggal.

2)      Jurnal berjudul “Tokoh-Tokoh Perempuan Peduli Lingkungan dalam Novel Partikel Karya Dee Lestari: Pendekatan Ekofeminisme”. Oleh Yusi Nuraeni dan Aji Septiaji. Diterbitkan oleh Diglosia – Jurnal Pendidikan, Kebahasaan dan Kesusastraan Indonesia, Pedidikan Bahasa Indonesia, Universitas Majalengka. Pada tahun 2019.

Penelitian ini mengenai lingkungan alam (ekologi) dan peranan perempuan (feminisme) dinamakan ekofeminisme. Objek penelitian ini ialah novel Partikel karya Dee Lestasri. Ekofeminisme memandang bahwa perempuan secara kultural dikaitkan dengan alam. Oleh sebab itu, tokoh perempuan merupakan bagian dari sebuah cerita dalam karya sastra. Seperti halnya tokoh laki-laki, tokoh perempuan juga memiliki peranannya sesuai dengan jalan cerita yang telah ditetapkan penulis. Peranan perempuan dalam karya sastra selalu menjadi hal yang menarik terutama jika tokoh tersebut memiliki karakter atau penokohan yang sangat unik seperti adanya perjuangan dalam menuntut pendidikan, pelestarian lingkungan serta memperjuangkan hak sebagai perempuan. Tokoh perempuan identik dengan kajian feminis atau kritik feminis.

3)      Jurnal berjudul “Ekofeminisme dalam Novel Akik dan Penghimpun Senja Karya Afifah Afra”. Oleh Andaru Ratnasari dan Liana Eka Wardani.

Penelitian ini membahas pertama, bentuk etika kepedulian terhadap lingkungan yang terdapat dalam novel Akik dan Penghimpun Senja Karya Afifah Afra. Kedua, bentuk peran perempuan terhadap lingkungan yang terdapat dalam novel Akik dan Penghimpun Senja Karya Afifah Afra.

4)      Jurnal berjudul “Dekonstruksi Terhadap Kuasa Patriarki atas Alam, Lingkungan Hidup dan Perempuan dalam Novel-Novel Karya Ayu Utami”. Oleh Wiyatmi, Maman Suryaman dan Esti Swatikasari.

Penelitian ini mendeskripsikan strategi dekonstruksi terhadap kuasa partriarki atas alam, lingkungan hidup dan perempuan dalam novel-novel Ayu Utami. Penelitiani ini meggunakan aliran pemikiran ekofeminisme. Sumber data adalah tiga novel karya Ayu Utami, yaitu Bilangan Fu, Manjali fan Cakrabirawa dan Maya. Hasil penelitian sebagai berikut: pertama, ketiga novel tersebut menggambarkan perjuangan di kawasan taman bumi Sewugunung dan situs candi Calwanarang di era Orde Baru. Kedua, bentuk perlawanan yang dilakukan oleh sejalan dengan pemikiran ekofeminisme dan merupakan strategi dekonstruksi terhadap kuasa patriarki atas alam, lingkungan dan perempuan.

Berdasarkan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada persamaan melalui pendekatan ekofeminisme dengan objek perempuan dan alam. Namun tentu saja hasil karya dari setiap penulis memiliki perbedaan dalam segi sudut pandang penulis. Dengan begitu, peneliti menetapkan judul “Analisis Tokoh Perempuan dan Alam dalam Novel Aroma Karsa Karya Dee Lestari melalui Pendekatan Ekofeminisme Sebagai Bahan Ajar di SMA” untuk dijadikan bahan ajar di Sekolah Menengah Atas.

 

Tuesday, 28 June 2022

JURNAL PEMBINAAN MINAT BACA BAHASA INDONESIA

 

PEMBINAAN MINAT BACA DAN STANDARISASI BAHASA INDONESIA PADA MASYARAKAT DESA PARAPATAN, KECAMATAN SUMBERJAYA

 

Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Dalam kegiatan berbahasa, ada empat keterampilan berbahasa yang perlu dimiliki semua orang, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Lebih jelasnya membaca merupakan poses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.. Tujuan utama dari membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.

Menurut Tarigan (2008: 9) mengatakan bahwa beberapa hal yang penting dalam membaca, ialah sebagai berikut.

a)      Membaca untuk memenuhi penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh. Membaca seperti ini disebut untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for detail or facts).

b)      Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang dialami tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya. Mengapa seperti ini disebut untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).

c)      Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, keuda dan ketia/seterusnya setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian buat dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita. (readin for organization).

d)     Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak bisa, tidak wajar mengenai seseorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah itu benar atau tidak benar. Ini disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasi (reading to classify).

e)      Membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading to evaluate).

Dilihat dari tujuan membaca tersebut, membaca merupakan kunci penting bagi kemajuan suatu bangsa, karena penguasaan Iptek hanya dapat diraih dengan minat baca yang tinggi. Seperti penelitian Kasiyun (2015) mengungkapkan bahwa para petani di pedesaan akan mampu membuat tanamannya menjadi subur dan berproduksi melimpah ruang karena mendengarkan pengarahan dari petugas penyuluhan, namun mereka tidak akan dapat menghasilkan bibit unggul dan menciptakan teknologi pertanian yang canggih kalau tidak membaca.

Dibanding dengan negara-negara yang tergabung dalam ASEAN dan negara asing lainnya, Indonesia masih menduduki urutan terbawah dalam minat membaca. Hal itu berarti dalam setiap seribu orang, hanya satu indeks membaca 0,001. Hal itu berarti dalam setiap seribu orang, hanya satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Kondisi itu jauh berbeda jika dibanding dengan Amerika yang memiliki indeks membaca 0,45 dan Singapura 0,5. Berdasarkan survey UNESCO minat baca masyarakat Indonesia menduduki urutan 38 dari 39 negara yang diteliti.

Pada perkembagan zaman inilah, tentu daya saing yang mulai dijarah oleh budaya lain. Salah satu usaha yang harus dilakukan sejalan dengan usaha pembinaan dan standarisasi bahasa Indonesia, ialah meningkatkan minat baca suatu masyarakat terutama para pemudanya. Dan pada dasarnya, kegemaran membaca itu harus dididik dan ditanamkan sejak dini, ketika masih duduk di sekolah. Jika begitu, mereka dapat membiasakan diri untuk membaca.

Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Rosidi (2016: 9) bahwa untuk menanamkan kegemaran mambaca pada anak-anak, mutlak harus memberi kesempatan kepada mereka agar masih kecil berkeakraban dengan buku, sehingga sudah dewasa mereka menganggap buku sebagai salah satu kebutuhan hidupnya sehari-hari yang tak dapat ditinggalkan.

Masalah yang dihadapi menyangkut minat baca ini sebetulnya sudah ada sejak dulu, membahasnya lagi menjadi masalah besar untuk hanya dihadapi secara sporadis. Masalah pembinaan minat baca adalah masalah nasional yang pada gilirannya akan menentukan eksistensi bangsa Indonesia sendiri secara keseluruhan. Seperti pada kenyataannya di masyarakat, terutama sekolah-sekolah tidak memiliki perpustakaan. Hal inilah yang khususnya  membuat Desa Parapatan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka masih menjadi permasalannya. Fasilitas yang utama dalam meningkatkan minat baca ini sangat menentukan pribadi dari masyarakatnya.

Untuk itulah perlu menanamkan minat baca dengan dilakukan pembinaan dan pengembangan minat baca dengan usaha memelihara, mempertahankan dan meningkatkan minat baca. Selaras dengan penelitian Aliyatin (2014) Faktor pendorong yang dapat meningkatkan minat baca antara lain ketertarikan dan kegemaran untuk mendapatkan informasi baru dari buku-buku yang ada, jika hal ini menjadi kebisaaan maka aktivitas ini akan selalu terpelihara jika ketersediaan bahan-bahan pustaka yang memadai baik jenis, jumlah maupun mutunya. Faktor-faktor ini ternyata memang tidak serta merta bisa disediakan secara pribadi seperti aktivitas lain. Ada empat elemen penting yang menjadi objek bidikan agenda besar yang harus diperhatikan, meliputi (1) Pemerintah, (2) Perpustakaan (3) Pustakawan, dan (4) Masyarakat.

Untuk mendukung kegiatan pelatihan disini dapat disesuaikan atas kesepakatan masyarakat desa setempat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Percetakan Angkasa.

Kasiyun, Suharmono. 2015. Upaya Meningkatkan Minat Baca sebagai Sarana untuk Mencerdaskan Bangsa. Jurnal Pena Indonesia (JPI) – Vol. 1, No. 1

Rosidi, Ajip. 2016. Pembinaan Minat Baca Bahasa dan Sastera. Bandung: PT Rosdakarya.

Nafisah, Aliyatin. 2014. Arti Penting Perpustakaan bagi Upaya Peningkatan Minat Baca Masyarakat. Jurnal Perpustakaan Libraria – Vol. 2, No.2

Saturday, 30 January 2021

Makalah Analisis Masalah dan Potensi Desa Parapatan, Kec. Sumberjaya, Kab. Majalengka

 



MAKALAH

Laporan Hasil Analisis Masalah dan Potensi Desa Parapatan, Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Kuliah Nyata Mahasiswa (KNM)


 

Oleh:

Dewi   

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

UNIVERSITAS MAJALENGKA

 2020

 


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah Swt yang telah memberikan limbahan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Laporan Hasil Analisis Masalah dan Potensi Desa Parapatan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka. Shalawat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Tini Sumartini, M.Pd., selaku dosen mata kuliah Kuliah Nyata Mahasiswa (KNM), yang telah memberikan banyak bantuan berupa bimbingan, arahan, serta dorongan sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan maupun cakupan bahasan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, sehingga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Majalengka, 2020

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................  i

DAFTAR ISI ..................................................................................................................  ii

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang ...............................................................................................  1

B.     Tujuan .............................................................................................................  1

C.     Manfaat ..........................................................................................................  1

BAB II PEMBAHASAN

A.       Gambaran Umum Desa .................................................................................  3

1.      Sejarah Desa Parapatan ...........................................................................  3

2.      Letak Geografis Desa ..............................................................................  5

a)      Luas Batas Wilayah ...........................................................................  5

b)      Batas Wilayah Desa ..........................................................................  5

c)      Jarak dari Pusat Pemerintahan Desa ke Kecamatan, Kabupaten,

dan Provinsi ....................................................................................... 6

d)     Pembagian Wilayah Rt/Rw ............................................................... 6

B.       Jumlah Penduduk Perwilayah ....................................................................... 6

a)      Berdasarkan Jumlah KK ......................................................................... 6

b)      Jumlah Tenaga Kerja ............................................................................... 6

C.       Sarana dan Prasarana ..................................................................................... 8

D.       Keadaan Sosial, Ekonomi, Politik, Keagamaan dan Budaya ........................ 10

E.        Permasalahan yang terdapat di Desa Parapatan ............................................ 11

F.        Potensi Sumber Daya Manusia di Desa Parapatan ........................................ 11

BAB III HASIL OBSERVASI

A.    Program kerja dan Pihak yang terlibat ...........................................................  12

B.     Jadwal Kegiatan .............................................................................................  13

BAB IV PENUTUP

A.    Kesimpulan .....................................................................................................  15

B.     Saran ...............................................................................................................  15

DOKUMENTASI-DOKUMENTASI ..........................................................................  16

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Desa menurut definisi universal adalah sebuah aglomerasi permukiman di area pedesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah kecamatan yang dipimpin oleh kepala desa. Desa merupakan kesatuan geografis terdepan dimana hampir sebagian besar penduduk bermukim.

Desa mempunyai kedudukan yang sangat penting di Negara Indonesia baik sebagai alat mencapai tujuan negara maupun sebagai lembaga yang memperkuat struktur pemerintahan negara. Sebagai alat dalam mencapai tujuan nasional, desa dapat menjakau sasaran yang akan disejahterakan karena agen terdepan.

Dalam tulisan ini memuat mengenai analisis masalah dan potensi Desa Parapatan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka. Untuk memajukan sebuah desa, memang tak bisa dipungkiri adanya perubahan. Perubahan merupakan usaha pencapaian yang bersifat perbaikan dan peningkatan, serta menciptakan hal-hal baru yang membawa kemajuan. Untuk mencapai perubahan itu, umumnya perlu adanya hal-hal yang baru berupa ara-cara baru, teknologi, benda arau barang baru, perngorganisasian baru sebagai syarat utama dari inovasi.

Namun dalam realitanya, permasalahan pedesaan ini telah terjadi tekanan terhadap penduduk, sumber daya alam, hingga timbulnya kemiskinan, degradasi moral, tekanan terhadap penduduk serta merenggangnya hubungan sosial yang ada. Permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara dan upaya yang harus dikontrol serta melakukan sesuatu berbagai pendekatan terhadap aspek permasalahan untuk membangun desa yang unggul.

B.  Tujuan

Makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:

1.      Untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai masalah dan potensi desa

2.      Agar mengetahui keadaan Desa Parapatan

3.      Memberikan informasi Desa Parapatan dari segi pendidikan, sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya.

C.  Manfaat

Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini sebagai berikut:

1.      Meningkatkan wawasan terhadap problematika pembangunan dan  potensi Desa khususnya Desa Parapatan.

2.      Menambah wawasan terhadap keadaan, pembangunan, kemajuan dan potensi Desa, khususnya Desa Parapatan.

3.      Mendapatkan berbagai informasi tentang keadaan Desa Parapatan dari berbagai bidang sehingga dapat menciptakan berbagai solusi terhadap problematika dan potensi Desa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Gambaran Umum Desa

1.      Sejarah Desa Parapatan

Pada pertengahan abad ke 18 Sultam Mataram mengirim utusan sebanyak 40 orang untuk menghadap Pangeran Borang yang menguasai  wilayah Majalengka wilayah Cimanuk utusan tersebut di tugaskan untuk menagih upeti kepada Pangeran Bonang.

Sebelum menghadap Pangeran Bonang sesampainya mereka di Randegan yang terletak di kecamatan Jatitujuh bertemu dengan Ki Patih Ambeng yang juga akan menagih upeti kepada Pangeran Bonang.

Di randegan ini terjadilah dialog antara rombongan dengan Ki Patih Ambeng, bahwa sebelum mereka menghadap Pangeran Bonang rombongan harus dapat mengalahkan Ki Patih Ambeng, dimana Ki Patih Ambeng menyelam kedalam sungai Cimanuk dan dari dalam sungai Cimanuk muncullah buaya-buaya yang besar dan bermulut lebar siap berperang dengan utusan Mataram tersebut.

Akhirnya mereka berhenti berperang dan mereka tidak jadi untuk menghadap Pangeran Bonang dan tempat kejadian tersebut di kenal dengan nama “Cibogor” yang berarti diam yang mana tempat tersebut terletak di Jatitujuh. Untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing mencari suatu daerah yang aman.

Diantara mereka ada yang menetap di hutan rotan di tepi sungai Ciwaringin dan di tempat inilah mendapat jodoh penduduk asli dan dari pernikahan tersebut mempunyai keturunan bernama Sarini, Sarini ini kemudian di kenal sebagai sebutan Buyut Sarini yang merupakan salah seorang yang berjasa dalam membuka hutan yang sekarang menjadi Desa Parapatan. Menurut cerita bahwa di daerah pagar gunung yang mendapat sebutan pesantren yang terletak di sebelah selatan Leuwimunding, pesantren ini dipimpin oleh seorang ulama yang di kanal dengan sebutan Buyut Depok. Diantara santrinya tereapat seorang putra Ki Gede Talaga yang bernama Tuan Riana dan sekaligus di pungut mantu oleh pimpinan pesantren tersebut.

Dari pernikahan tuan Riana dengan putri ulama tersebut mempunyai putra bernama si Banjar salah seorang santri lain yang bernama Sanata teman tuan Riana putra dari demang Gentong merupakan teman dekat di Banjar.

Kemudian di kerjakannya atas perintah gurunya sehingga pada suatu tempat di hutan rotan tepi sungai Ciwaringin bertemu dengan wanita yang bernama Sarini.

Maka mulailah penebangan hutan oleh Sanata yang akhirnya terkenal dengan sebutan Buyut Sanata. Karena mwngalami berbagai rintangan maka buyut Sanata minta bantuan Buyut Banjaran, ketiga orang inilah yang berjasa dalam pendirian Desa Parapatan, mereka bertiga membabat hutan dengan cara membakar hutan rotan yang terbakar, hutan inilah menentukan batas-batas Desa Parapatan, jadi dapat di simpulkan bahwa tokoh-tokoh pendiri Desa Parapatan adalah sebagai berikut:

-          Buyut Saniri

-          Buyut Sanata

-          Buyut Banjar

Penduduk Desa Parapatan sekarang adalah keturunan dari ketiga tokoh diatas pada zaman dahulu sebelum ada nama Desa Parapatan. Dan pada zaman kolonial waktu perang Dongdong yang namanya leuweung itu adalah tempat yang masih alang-alang dan daerah leuweung hanya  kedengaran suara burung jadi musuh tidak jadi masuk daerah tersebut dan musuh istirahat lelah di pinggir jalan kereta api sampai tertidur dan disitulah senjata-senjata di ambil oleh pejuang-pejuang zaman dahulu berupa tombak, keris dan pedang yang pada waktu itu dibawa oleh pasukan ke Dongdong dan sekarang juga masih ada yang ketinggalan barang-barang tersebut sebagian kecil dan masih dirawat sampai sekarang oleh Bapdak Sainah sesepuh Panjalin yang sekarang berdomisili di leuweung dan juga menunggui buyut panganten.

Setelah lama, Desa Penjalin dimekarkan menjadi beberapa blok, ada bagian wilayah lain yaitu Desa Parapatan yang asalnya dari perempatan jalan tempat beristirahatnya Pangeran Cakrabuana. Sekitar tahun 1880 Desa Parapatan ditetapkan menjadi desa dan kuwu/pimpinan pada saat itu yang paling utama adalah Bapak Nuska.

Nama Desa Parapatan sendiri dari awal yang dikenal sebagai kampung Pledang. Nama Pledang berasal dari mata pencaharian warga Desa Parapatan yaitu mledang. Keahlian mledang atau pande tambang dari orang Tegal Pasayangan (Jawa Tengah) yang merantau ke Desa Parapatan. Salah satunya adalah Buyut. Atas hasil mledang diantaranya Dangdang (bahas jawa) yaitu alat untuk menanak nasi. Bersama mata pencaharian warga Desa Parapatan itu dapat hidup sejahtera. Yang aslinya di jual banyak pada daerah Sunda yang menyebutnya se’eng. Akan tetapi sekarang perkembangannya sudah berkurang untuk menjadi mledang, disebabkan warga Parapatan asli banyak mencari pekerjaan lain di luar daerah.

Sebelum merdeka di lingkungan Parapatan banyak pendatang dari Cina yang berdagang dan membangun pabrik, yaitu pabrik kulit, batik, kecap, toko material ataupun tembakau. Wilayah pemukiman orang Cina di daerah perempatan jalan. Lalu pada tahun 1947 orang Cina meninggalkan Desa Parapatan. Maka bangunan atau pabrik tadi dihancurkan oleh warga Desa Parapatan. Dan pada saat itu juga ada stasiun kereta yang di bangun pada pemerintahan penjajahan Belanda.

Adapun luas wilayah Desa Parapatan sempit dibandingkan dengan Desa Penjalin atau Desa Peningkiran. Ada beberapa tempat yang lazim orang kenal tempatnya yang disandingkan dengan nama Parapatan. Yakni pasar, lapangan bola, dan pemakaman. Jadi Desa Parapatan yang mempunyai kampung Pledang dengan luas sekitar 26 hektar, 23 luas pemukiman warga dan 3 hektar tanah bengkok.

2.      Luas Geografis Desa

a)      Luas dan Batas Wilayah

Desa Parapatan memiliki luas wilayah 17,577 Hektar yang terdiri dari 4 Blok dengan 4 Rukun Warga (RW) dan 8 Rukun Tangga (RT).

b)     Batas Wilayah Desa

Batas

Desa/Kelurahan

Kecamatan

Sebelah Utara

Desa Panjalin Kidul

Sumberjaya

Sebelah Selatan

Desa Paningkiran

Sumberjaya

Sebelah Timur

Desa Panjalin Kidul

Sumberjaya

Sebelah Barat

Desa Paningkiran dan Panjalin Kidul

Sumberjaya

 

 

 

 

c)      Jarak dari Pusat Pemerintahan Desa ke Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi

Orbitrasi

 

Jarak dari kecamatan ke Pemerintaha Kabupaten

37 Km

Jarak ke Pusat Pemerintah Provinsi

105 Km

Jarak ke Ibu Kota Negara

251 

d)     Pembagian Wilayah Rt/Rw

No

Blok

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

1.

Poldes

201

206

407

2.

Cap Gawe

213

253

466

3.

Lebe

117

131

248

4.

Raksa Bumi

206

428

634

Jumlah

737

1.018

1.755

B.  Jumlah penduduk Perwilayah

a)      Berdasarkan Jumlah KK

No

Blok

Jumlah KK

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

1.

Poldes

147

201

206

407

2.

Cap Gawe

169

213

253

466

3.

Lebe

227

117

131

248

4.

Raksa Bumi

216

206

428

634

Jumlah

759

737

1.018

1.755

b)     Jumlah Tenaga Kerja

Ø  Tenaga kerja terdidik/tenaga mahir

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang mendapatkan suatu keahlian atau kemahiran pada suatu keahlian pada suatu bidang karena sekolah atau pendidikan formal maupun nonformal. Pada Desa Parapatan terdiri dari:

Pekerjaan

Jumlah

Karyawan pemerintah

19 orang

Karyawan swasta

44 orang

TNI/Polri

4 orang

Pegawai Negeri Sipil

24 orang

 

Ø  Tenaga kerja terlatih

Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu yang didapat dalam bidang tertentu yang didapat melalui pengalaman kerja. Keahlian terlatih ini tidak memerlukan pendidikan karena yang dibutuhkan adalah latihan dan melakukannya berulang-ulang sampai bisa dan menguasai pekerjaan tersebut. Pada Desa Parapatan terdiri dari :

Pekerjaan

Jumlah

Pedagang

499 orang

Ø  Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih

Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja kasar yang hanya mengandalkan tenaga saja. Pada Desa Parapatan terdiri dari :

Pekerjaan

Jumlah

Buruh

658 orang

Ø  Tenaga kerja pabrik, kantor dan lapangan

Tenaga kerja pabrik adalah tenaga kerja yang melaksanakan operasional mesin-mesin maupun manual dalam menghasilkan produk. Seperti di Desa Parapatan pekerjanya biasanya bekerja pada pabrik besi, garmen, pabrik barang bekas dll.

Tenaga kerja kantor adalah tenaga kerja yang mengatur kejadian-kejadian yang dijalankan sehingga menjadi keterangan yang berguna dengan menggunakan alat, baik mesin-mesin maupun manual sehingga membantu mutu pekerjaan, memudahkan pengawasan, menghemat biaya, tenaga dan waktu.

Tenega kerja lapangan adalah tenaga kerja tidak berhubungan secara langsung dengan tingkat kegiatan produksi. Tempat bekerja tenaga lapangan tidak di dalam pabrik atau kantor. Seperti misalnya kasir di supermarket atau minimarket pada sekitaran Desa Parapatan yaitu Berlian dan Alfamart.

Ø  Tenaga kerja yang bekerja didaerah sendiri (Di dalam Kabupaten Majalengka)

Untuk tenaga kerja yang berada didaerah sendiri atau sekitaran Kabupaten Majalengka berkisaran 40 %, lebih sedikit dibandingkan orang bekerja di luar daerah. Atau setara dengan 599 orang.

Ø  Tenaga kerja yang bekerja di luar daerah (Di luar Kabupaten Majalengka)

Untuk tenaga kerja yang berada di luar daerah Kabupaten Majalengka berkisaran 60 %, lebih banyak dibandingkan dengan orang bekerja di dalam daerah Kabupaten Majelengka. Atau setara dengan 988 orang.

Ø  Upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja

-   Pemerintah dapat mendirikan berbagai pusat pelatihan kerja, peningkatan mutu, pendidikan, menciptakan suasana kondusif bagi para penanam modal, melakukan transmigrasi dan keluarga berencana.

-   Swasta dapat bekerja sama dengan sekolah dan kampus untuk menyediakan kesempatan bagi para siswanya unuk kerja praktik/magang.

-   Sedangkan individu berusaha terus membekali diri dengan berbagai kemampuan serta menanamkan jiwa wirausaha.

Di Desa Parapatan pernah diadakannya meningkatkan keterampilan Ibu Rumah Tangga dengan pelatihan menjahit selama beberapa bulan. Tujuannya yaitu membuka pekerjaan baru dan meningkatkan kualitas para IRT untuk tidak terbatas dengan aktivitasnya dalam keluarga.

Ø  Upah

Upah yang berlaku di Indonesia adalah upah harian, mingguan, dan bulanan. Sistem upah sangat tergantung dari kondisi permintaan dan penawaran tenaga kerja, hubungan pemberi kerja dan penerimaan kerja dan upah minimum.

Upah

Pekerjaan

Jumlah Kisaran

Bulanan

Pegawai Negeri Sipil

Rp 3.500.000

Harian

Buruh Tani

Rp 40.000

Harian

Pedagang

Rp 100.000

Harian

Buruh

Rp 40.000

C.    Sarana dan Prasarana

-          Pendidikan

Nama Lembaga

Jumlah

TK/Kober

1

PAUD

1

Pesantren

1

SD

2

Majelis Taklim

3

-          Sarana Peribadatan

Nama Lembaga

Jumlah

Masjid

1

Mushola

3

-          Sarana Olahraga

Nama Lembaga

Jumlah

Lapangan sepak bola

2

Lapangan bulu tangkis

2

-          Kesehatan

Nama Lembaga

Jumlah

Puskesmas

1

Bidan Desa

1

Kelembagaan Desa Parapatan

Berikut ini Kuwu-Kuwu yang pernah menjabat di Desa Parapatan

No

Nama

Tahun Jabatan

1

Kuwu Nuska

Tahun 1901 – 1908

2

Kuwu Sanim

Tahun 1908 – 1916

3

Kuwu Umar Sakti      

Tahun 1916 – 1924

4

Kuwu Mursila

Tahun 1924 – 1940

5

Kuwu Penyelang / PJS Bun aim

Tahun 1940 – 1947

6

Kuwu Murita

Tahun 1947 – 1963

7

Kuwu Surakman        

Tahun 1963 – 1966

8

Kuwu Samian

Tahun 1966 – 1980

9

Kuwu Penyelang / PJS Sukatma

Tahun 1980 – 1982

10

Kuwu Juhadi  

Tahun 1982 – 1991

11

Kuwu Penyelang/ PJS Endang Mikin

Tahun 1991 – 1993

12

Kuwu Kamad

Tahun 1993 – 1993

13

Kuwu Penyelang/ PJS Saikun

Tahun 1993 – 1994

14

Kuwu Alipudin

Tahun 1994 – 2002

15

Kuwu Penyelang/ PJS Muga

Tahun 2002 – 2004

16

Kuwu Muga

Tahun 2004 – 2014

17

Kuwu Dasman / PJS  

Tahun 2014 – 2015

18

Kuwu Dedi Suswandi

Tahun 2015  - Sekarang

 

D.    Keadaan Sosial, Ekonomi, Politik, Keagamaan dan Budaya

a)      Sosial

Seiring berjalannya waktu, perkembangan zaman saat ini. Meskipun semua kehidupan masyarakat mengalami perubahan progres yang sangat signifikan terutama setiap orang dapat mengakses media sosial yang kemudian hal ini dapat mengakibatkan msyarakat menjadi individualis. Namun, hal itu ternyata tidak semua dilingkungan Desa Parapatan dapat terpengaruh oleh perkembangan zaman. Para tetua biasanya akan mengajak para remaja untuk bekerjasama, gotong royong untuk meningkatkan solidaritas bersama. Kegiatan yang diadakan berupa; kerja bakti membangun saluran air, saling bekerja sama dalam perbaikan jalan, pengajian rutin, acara perlombaan 17 agustus, pawai obor pada saat Idul Fitri, kegiatan posyandu, membantu ketika adanya hajatan dan lain sebagainya.

b)     Ekonomi

Keadaan ekonomi masyarakat di Desa Parapatan cukup terpenuhi, hal ini dibuktikan adanya keterampilan secara pribadi masing-masing. Ditambah lagi letak geografis yang sangat strategis dilalui oleh lalu-lalang jalan raya dan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian pedagang. Hal ini didorong oleh Pasar Panjalin yang selalu ramai ketika hari senin dan kamis. Banyak orang pun memilih menjadi buruh pabrik, karena letaknya yang tidak jauh dari pabrik Nabati, pabrik rotan, Garmen, dan sebagainya.

c)      Politik

Mayarakat Desa Parapatan ikut berpartisipasi menjadi panitia penyelenggara pemilihan umum tingkat desa, kecamatan, daerah hingga memilihan umum tingkat nasional.

d)     Keagamaan

Mayoritas agama masyarakat Desa Parapatan ialah islam disamping ada berberapa nonmuslim. Namun, hal inilah yang menjadi alat sebagai toleransi dan tidak adanya berbedaan diantara agama. Kebiasaan kajian rutinan, sebagai sarana untuk mendapatkan nilai-nilai yang bersifat keagamaan.

e)      Budaya

Desa Parapatan masih terikat dengan budaya yang sudah ada secara turun-temurun dilaksanakan. Berdasarkan kebudayaan yang hingga saat ini terlaksanakan ialah syukuran 4 bulanan, ngadusi (Mandi kembang 7 bulanan), tolak bala, geyong (7 hari setelah kelahiran bayi), munjung (Sedekah bumi), dan sebagainya.

 

 

 

E.  Permasalahan yang ada di di Desa Parapatan

1)      Masalah saluran air di desa kerap kali beberapa kali bermasalah, dikarenakan jika musim penghujan datang. Keresahan warga ini sudah dialami sejak beberapa tahun tahun yang lalu. Dikarenakan letak geografisnya yang dekat persawahan Desa Paningkiran, kemungkinan air garapan sawah akan masuk ke pemukiman warga. Terlebih lagi kurangnya daya serap air. Hal inilah yang membuat air menggengang atau banjir.

2)      Membangun rumah yang tak layak huni menjadi hunian yang bisa ditempati. Karena hal inilah menggerakkan subsidi dana pembangunan untuk memberikan bantuan.

3)      Masalah pembuangan sampah yang sampai sekarang masih belum teratasi. Walaupun pemilik tanah sudah memberikan peringatan, tetap saja warga yang tidak sadar akan lingkungan masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal inilah yang masih menjadi usaha desa untuk menanggulanginya.

4)      Sosialisasi pandemik pada warga desa pada saat ini mulai menyebarkan kesadaran di masyarakatnya. Berupa didirikannya posko kesehatan di depan kantor Desa Parapatan, mengenakan masker dan menyediakan air untuk cuci tangan disetiap tempat-tempat yang biasa masyarakat kunjungi.

 

F.     Potensi Sumber Daya Manusia di Desa Parapatan

Ø  Usaha kue cincin (Jalabiya)

Kewirausahaan inilah yang dibangun oleh seorang ibu rumah tangga salah satu warga Desa Parapatan. Dengan usaha tersebut, mampu memenuhi kehutuhan keluarga dan pekerjanya. Pemasarannya melalui warung dan pasar yang menjadikannya selalu laris setiap harinya. Karena itulah, Jalabiya ini menjadi ciri khas makanan Desa Parapatan.

Ø  Dangdang (Se’eng) atau alat pengukus nasi tradisional

Ciri khas usaha lainnya ialah dangdang karena sejak zaman dulu sudah ada. Perkembangan dangdang pada masanya sangatlah pesat hingga pengiriman luar daerah. Namun, seiring perkembangan zaman dangdang digantikan oleh mejikom yang lebih modern. Pengukir dangdang pun mulai sedikit, walaupun begitu dangdang masih tetap menjadi ciri khas kampung pledang ini (Desa Parapatan). Sehingga masih dipampang dangdang yang legendaris itu di dalam laci kantor desa.

 

 

 

 

BAB III

HASIL OBSERVASI

 

A.    Program Kerja dan Pihak yang terlibat

No

Nama Program Kerja

Tujuan

Pihak yang Terlibat

1.

Pengenalan dunia digital terhadap dampak pemasaran produk di masyarakat Desa Parapatan

Memberikan pengenalan yang baru untuk membuka inovasi baru melalui dunia digital.

Seluruh masyarakat

2.

Taman baca (Belajar sambil bermain dalam segi literasi)

-Memberi motivasi kepada anak-anak untuk belajar membaca dan menulis.

-Belajar seru melalui puisi, drama dan teater.

-Membantu menyelesaikan tugas dan permasalahan di sekolah.

Anak-anak serta peserta didik di Desa Parapatan

3

Pengajian Majelis Taklim

Memberikan siraman rohani dalam ruang lingkup silaturahmi

Warga Desa Parapatan khususnya Desa Parapatan

4

Jumsih (Jumat bersih)

Untuk menjaga kebersihan serta merawat lingkungan dengan membuatkan tempat pembuangan sampah yang layak.

Seluruh warga Desa Parapatan

5

Bimbingan kreatifitas anak (Menggambar, melukis, hennaart)

Membantu mengembangkan bakat dan minat anak-anak dalam imajinasi dan kreatifitas

Anak-anak dan peserta didik

6

Sosialisasi New Normal dalam menjaga kesehatan warga

-Meningkatkan kualitas kebersihan diri dan lingkungan.

-Memberi pemahaman untuk menjaga jarak dalam menaati peraturan protokol kesehatan.

Aparat kepolisian, kesehatan dan warga Desa Parapatan

7

Perlombaan dalam Memperingati HUT RI 17 Agustus

Meningkatkan kreativitas dan keaktifan warga dalam segi sosial.

Seluruh Warga Desa Parapatan

 

B.     Jadwal Kegiatan

No

Nama Program Kerja

Pihak yang Terlibat

Waktu dan Tanggal

1.

Pengenalan dunia digital terhadap dampak pemasaran produk di masyarakat Desa Parapatan.

Memberikan pengenalan yang baru untuk membuka inovasi baru melalui dunia digital.

Seluruh masyarakat

Hari minggu

Tanggal :

2  Agustus 2020

Pukul :

09.00 – 12.00 WIB

 

2.

Taman baca (Belajar sambil bermain dalam segi literasi).

-Memberi motivasi kepada anak-anak untuk belajar membaca dan menulis.

-Belajar seru melalui puisi, drama dan teater.

-Membantu menyelesaikan tugas dan permasalahan di sekolah.

Anak-anak serta peserta didik di Desa Parapatan

Hari:

Sabtu dan minggu

Tanggal:

8, 9, 15, 22, 23, 29 Agustus 2020

Pukul:

15.00 – 16.30 WIB

3

Pengajian Majelis Taklim

Memberikan siraman rohani dalam ruang lingkup silaturahmi

Warga Desa Parapatan khususnya Desa Parapatan

Hari  :

Senin dan rabu

Tanggal :

3, 5, 10, 12, 17, 19, 24, 26 Agustus 2020

Pukul :

13.00 – 14.30

4

Bimbingan kreatifitas anak (Menggambar, melukis, hennaart)

Anak-anak dan peserta didik

Setiap hari jumat

Tanggal : 7, 14, 21, 28 Agustus 2020

Pukul : 14.00 – 15.00

5

Jumsih (Jumat bersih)

Untuk menjaga kebersihan serta merawat lingkungan dengan membuatkan tempat pembuangan sampah yang layak

Seluruh warga Desa Parapatan

Setiap hari jumat

Tanggal : 7, 14, 21, 28 Agustus 2020

Pukul : 15.01 – 15.30

6

Sosialisasi New Normal dalam menjaga kesehatan warga

-Meningkatkan kualitas kebersihan diri dan lingkungan.

-Memberi pemahaman untuk menjaga jarak dalam menaati peraturan protokol kesehatan.

Aparat kepolisian, kesehatan dan warga Desa Parapatan

Hari senin

Tanggal:

10 Agustus 2020

Pukul :

09.00 – 12.00

7

Perlombaan dalam Memperingati HUT RI 17 Agustus

Meningkatkan kreativitas dan keaktifan warga dalam segi sosial.

Seluruh Warga Desa Parapatan

Hari minggu dan senin

Tanggal :

16 – 17 Agustus 2020

Pukul :

10.00 – 13.00

 

 

BAB IV

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diambil kesimpulan mengenai keadaan Desa Parapatan. Dari berbagai segi yaitu ekonomi, pendidikan, pertanian dan lembaga-lembaga yang menjadi pendukung, jika dilihat dari hasil laporan analisis sidah cukup dalam pengembangan kemajuan dan perubahan terhadap Desa Parapatan. Hal ini merupakan kinerja yang membutuhkan waktu tidak sedikit bagi para pekerja di desa itu sendiri. Selain itu, dalam meningkatkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhannya sudah tecukupi dengan beraneka ragam mata pencaharian atau berdasarkan pekerjaan yang beragam. Adapun dari segi pendidikan, masyarakat telah menempuh pendidikan yang beragam, artinya berbagai kemampuan yang dimiliki dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan pengembangan Desa Prapatan. Terkait mengenai perkembangan zaman, perubahan yang bersifat universal merupakan upaya yang sedang dijalankan, serta bagian dari harapan warga Desa Prapatan tanpa menghilangkan budaya atau tradisi yang sudah menjadi identitas. Tentunya di era Covid-19 ini masyarakat Desa Parapatan bergotong royong melawan virus ini dan bergotong-royong menerapkan protokol kesehatan seperti mengadakan posko, membuat tempat cuci tangan dan bersosialisasi untuk menggunakan masker ketika keluar rumah. Ini merupakan bentuk solidaritas yang diharapkan masyarakat untuk terus bertahan demi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat Desa Parapatan.

B.     Saran

Di setiap desa memiliki berbagai data yang dimiliki terkait informasi atau data penduduk, mata pencaharian bagi masyarakat serta berbagai potensi desa yang miliki seperti sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dengan demikian, upaya controling atau pengontrolan harus dilaksanakan secara efisien dan efektif. Upaya ini dapat dilakukan salam berbagai hal yang berkaitan dengan masyarakat, misalnya dalam jumlah penduduk, sarana prasarana, jumlah pendidikan, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. pemerintahan khsusunya yang bekerja sebagai perangkat desa, harus memiliki skill dalam menggerakan upaya controling dan memiliki program serta wawasan terhadap prospek kedepan terkair pengembangan desa. Supaya sesuatu hal belum diketahui atau yang sudah diketahui misalnya dalam problematikan penduduk atau pembangunan dapat ditemukan solusi yang baik serta pencegahan terjadinya problematika tersebut.